BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Angka kematian bayi
menggambarkan keadaan social ekonomi dimana angka kematian tersebut dihitung.
Kegunaan angka kematian bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara
kematian neonatal(bayi baru lahir) dan kematian bayi lainnya. Dan berbagai
faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak balita. Berbagai faktor yang
mempengaruhi status kesehatan anak balita adalah sebagai berikut.
1. Faktor
Kesehatan
2. Faktor
Kebudayaan
3. Faktor
Keluarga
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan konsep
dasar dan pengertian bayi,batita, dan balita?
2.
Apakah yang dimaksud dengan
mobilitas dan mortalitas pada bayi, balita?
3.
Apa saja penyebab morbilitas dan
mortalitas pada bayi dan balita di Indonesia?
4.
Apa saja upaya untuk menurunkan
morbilitas dan mortalitas pada bayi dan balita?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui konsep dasar dan pengertian bayi,batita, dan balita
2. Untuk
mengetahui yang dimaksud dengan mobilitas dan mortalitas pada bayi, balita
3. Untuk
mengetahui penyebab morbilitas dan mortalitas pada bayi dan balita di Indonesia
4. Untuk
mengetahui upaya untuk menurunkan morbilitas dan mortalitas pada bayi dan
balita
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR BAYI, BATITA , & BALITA
§ Pengertian Bayi : Masa tahapan
pertama kehidupan seorang manusia setelah terlahir dari rahim seorang ibu. Pada
masa ini, perkembangan otak dan fisik bayi selalu menjadi perhatian utama,
terutama pada bayi yang terlahir premature maupun bayi yang terlahir cukup
bulan namun memiliki berat badan rendah.
§ Pengertian Batita : Merupakan salah satu
periode usia manusia setelah bayi dengan usia + 15 bulan-3 tahun.
§ Pengertian Balita : Merupakan salah satu
periode usia manusia setelah bayi dengan rentang usia dimulai dari dua sampai
dengan lima tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60
bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia
prasekolah.
2.2 MORDIBITAS & MORTALITAS PADA BAYI
§
Angka Kesakitan Bayi dan Kematian Bayi
1.
Angka
Kesakitan Bayi
Angka
kesakitan (Mordibitas) adalah perbandingan antara jumlah penduduk karena
penyakit tertentu dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun, dan dinyatakan
dalam per 100 penduduk. Kegunaan dari mengetahui angka kesakitan ini adalah
sebagai indicator yang digunakan untuk menggambarkan pola penyakit tertentu
yang terjadi di masyarakat. Angka kesakitan bayi adalah perbandingan antara
jumlah penyakit bayi tertentu yang ditemukan di satu wilayah tertentu pada
kurun waktu 1 tahun dengan jumlah kasus penyakit bayi tertentu yang ditemukan
disuatu wilayah pada kurun waktu yang sama dikalikan seratus persen.
2.
Angka
Kematian Bayi
Angka
kematian (Mortalitas) digunakan untuk menggambarkan pola penyakit yang terjadi
di masyarakat. Kegunaan dari mengetahui angka kematian ini adalah sebagai
indicator yang digunakan sebagai ukuran derajat kesehatan untuk melihat status
kesehatan penduduk dan keberhasilan pelayanan kesehatan dan upaya pengobatan
yang dilakukan.
Sementara
itu, yang dimaksud dengan kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara
saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Jadi, Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya
kematian bayi berusia di bawah satu tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu
tahun tertentu. Secara garis besar, adapula yang membagi kematian bayi menjadi
dua,berdasarkan penyebabny, yaitu :
§ Kematian
neonatal atau disebut juga kematian bayi endogen adalah kematian bayi yang
terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan. Kematian bayi neonatal atau bayi
baru lahir ini umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak
lahir, yang diperoleh dari orangtuanya pada saat konsepsi atau didapat selama
kehamilan.
§ Kematian
post natal atau disebut dengan kematian bayi endogen adalah kematian bayi yang
terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan.
Angka
kematian bayi menggambarkan keadaan social ekonomi dimana angka kematian
tersebut dihitung. Kegunaan angka kematian bayi untuk pengembangan perencanaan
berbeda antara kematian neonatal(bayi baru lahir) dan kematian bayi lainnya.
Karena kematian neonatal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan
program pelayanan kesehatan ibu hamil,
misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
Menurut
Survey Kematian Bayi (SKRT) tahun 2001, Angka Kematian Bayi Baru Lahir (umur
0-28 hari) adalah 20 per 1000 kelahiran hidup. Yang berarti bahwa jumlah
kematian bayi baru lahir adalah: 89.770 bayi baru lahir pertahun atau 246 bayi
baru lahir per hari atau 10 bayi baru lahir per jam. Sedangkan, Angka Kematian
Bayi (0-12 bulan), menurut SKRT tahun 2001 adalah 35 per 1000 kelahiran hidup.
Yang berarti jumlah kematian bayi adalah 157.000 bayi pertahun atau 430 bayi
perhari atau 18 bayi per jam.Tahun 2009, depkes RI mentargetkan penurunan angka
kematian bayi baru lahir(neonatal) dari 20 bayi baru lahir per 1000 kelahiran
hidup. Sementara itu, target penurunan Angka Kematian Bayi adalah dari 35 bayi
per 1000 kelahiran hidup menjadi 26 bayi per 1000 kelahiran hidup.
§ Angka Kesakitan dan Kematian Balita
1.
Angka
Kesakitan Balita
Angka
kesakitan balita berkaitan dengan kesakitan oleh karena adanya penyakita akut (
seperti penyakit pernafasan, infeksi, atau trauma), penyakit kronik, atau
kecacatan pada masa balita. Angka kesakitan balita adalah perbandingan antara
jumlah kasus penyakit balita tertentu yang ditemukan di suatu wilayah pada
kurun waktu yang salam dikalikan seratus persen.
Contoh:
Angka kesakitan penyakit
(difteri/pertusis/tetanus/TNeonatorum/campak/polio/hepatitis B)abak balita
adalah perbandingan antara jumlah anak balita penderita (difteri/pertusis/tetanus/TNeonatorum/campak/polio/hepatitis
B) dengan jumlah anak balita pada periode waktu yang sama dilakukan seratus
persen.
2.
Angka
Kematian Balita
Yang
di maksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia 1 sampai
menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 tahun sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari.
Sedangkan angka kematian anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun.
Selama 1 tahun tertentu per 100 anak pada usia yang sama pada pertengahan tahun
tersebut. Jadi, angka kematian anak tidak termasuk kematian bayi.
Angka
kematian anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung
mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka kematian anak akan tinggi bila
terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang
buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada anak atau kecelakaan yang
terjadi di dalam atau di sekitar rumah.
Sedangkan
yang dimaksud dengan balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk
bayi yang baru lahir, yang berusi 0 sampai menjelang 5 tahun (4 tahun, 11
bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun. Jadi, angka
kematian balita(AKABA) adalah jumlah kematian anak yang berusia 0-4 tahun
selama 1 tahun tertentu per 1000 anak pada umur yang sama pada pertengahan tahun
tersebut (termasuk kematian bayi).
2.3
PENYEBAB
MORDIBITAS DAN MORTALITAS PADA BAYI & BALITA DI INDONESIA
Angka
kematian bayi dan balita Indonesia adalah tertinggi di negara ASEAN. Penyebab
angka kesakitan dan kematian anak terbanyak saat ini masih diakibatkan oleh
pneumonia (ISPA) dan diare. Untuk itu petugas kesehatan, termasuk bidan
hendaknya terus berupaya meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuannya
untuk menanggulangi berbagai masalah, termasuk pneumonia dan diare. Berikut ini
akan dikemukakan pembahasan tentang kedua penyakit tersebut (Pneumonia dan
diare) untuk dapat membantu bidan memahami tentang hal-hal yang berkaitan
dengan penyakit pneumonia dan diare. Sehingga diharapkan bidan dapat memberikan
pelayanan dan perhatian yang optimal terhadap kesehatn bayi dan balita.
1.
Angka
Kesakitan ( Mordibitas) ISPA dan Pneumonia
ISPA
merupakan penyakit yang seringkali dilaporkan sebagai 10 penyakit utama di negara berkembang. Gejala yang sering
dijumpai adalah batuk, pilke dan kesukaran bernafas. Episode atau serangan
batuk pada anak, khususnya balita adalah 6-8 kali pertahun.
2.
Angka
Kematian (Mortalitas) ISPA dan Pneumonia
Kematian akibat ISPA pada anak, khususnya balita,
terutama disebabkan oleh pneumonia. Di Indonesia, angka kejadian pneumonia pada
balita adalah sekitar 10-20% pertahun. Angka kematian pneumonia pada balita
Indonesia adalah 6 per 1000 balita. Ini berarti dari setiap 1000 balita setiap
tahun ada 6 orang di antaranya yang meninggal akibat pneumonia sebelum ulang
tahunnya yang ke 5
Jika dihitung, jumlah balita yang
meninggal akibat pneumonia di Indonesia dapat mencapai 150.000 orang pertahun,
12.500 perbulan, 416 perhari, 17 orang perjam atau 1 orang balita tiap menit.
Usia yang rawan adalah usia bayi (dibawah 1 tahun), karena sekitar 60-80%
kematian pneumonia terjadi pada bayi. Menurut survey Kesehatan Rumah Tangga
1995,proporsi kematian ISPA (terutama pneumonia) pada abyi adalah 29,5%.
Artinya dari setiap 100 orang bayi yang meninggal, sekitar 30 orang bayi yang
meninggal karena ISPA terutama pneumonia. Survey ini juga mengungkapkan bahwa
penyebab kematian terbesar pada bayi adalah ISPA
3.
Diare
Diare merupakan salah satu masalah
kesehatan utama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia,
penyakit diare adalah salah satu penyebab kematian utamasetelah infeksi saluran
pernafasan.
Insiden penyakit diare yang berkisar
antara 200-374 dalam 1000 penduduk, dimana 60-70% di antaranya anak-anak usia
dibawah 5 tahun.
§ Faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan anak
Berbagai
faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak balita adalah sebagai berikut.
1) Faktor
Kesehatan
Faktor kesehatan ini merupakan faktor
utama yang dapat menentukan status kesehatan anak secara umum. Faktor ini
ditentukan oleh status kesehatan anak itu sendiri, status gizi, dan kondisi
sanitasi.
2) Faktor
Kebudayaan
Pengaruh budaya juga sangat menentukan
status kesehatan anak, dimana terdapat keterkaitan secara langsung antara
budaya dengan pengetahuan. Budaya di masyarakatdapat juga menimbulkan penurunan
kesehatan anak, misalnya terdapat beberapa budaya dimasyarakat yang di anggap
baik oleh masyarakat padahal budaya tersebut justru menurunkan kesehatan anak.
Sebagai contoh, anak yang badannya panas akan dibawa ke dukun dengan keyakinan
terjadi kesurupan/kemasukan barang gaib, anak pascaoperasi dilarang makan
daging ayam , karena daging ayam dianggap dapat menambah nyeri yang ada pada
luka operasi (nyeri atau ada anggapan lain bahwa luka tersebut menjadi lebih
sulit sembuh), kebiasaan memberikan pisang pada bayi baru lahir dengan anggapan
anak cepat besar dan berkembang, atau anak tidka boleh makan daging dan telur
karena dapat menimbulkan penyakit cacingan. Berbagai contoh budaya yang ada di
masyarakat tersebut sangat besar mempengaruhi derajat kesehatan anak dalam masa
pertumbuhan dan perkembangan yang tentunya membutuhkan perbaikan gizi atau
nutrisi yang cukup.
3) Faktor Keluarga
Faktor keluarga dapat menentukan
keberhasilan perbaikan status kesehatan anak. Pengaruh keluarga pada masa
pertumbuhan dan perkembangan anak sangat besar melalui pola hubungan anak dan
keluarga serta nilai-nilai yang ditanamkan. Apakah anak dijadikan sebagai
pekerja atau anak diperlakukan sebagaimana mestinya dan dipenuhi kebutuhannya
baik asah, asih, atau asuhnya. Peningkatan status kesehatan anak juga terkait
langsung dengan peran dan fungsi keluarga terhadap anaknya, seperti membesarkan
anak, memberikan dan menyediakan makanan, melindungi kesehatan, memberikan
perlindungan secara psikologis, menanamkan nilai budaya yang baik,
mempersiapkan pendidikan anak, dan lain-lain.
2.4 UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN BAYI
& ANAK BALITA
Pemerintah telah membuat berbagai kebijakan untuk
mengatasi persoalan kesehatan anak.khususnya untuk menurunkan angka kematian
anak,di antaranya sebagai berikut :
1.
Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat telah dilakukan
berbagai upaya, salah satunya adalah dengan meletakkan dasar pelayanan
kesehatan pada sector pelayanan dasar. Pelayanan dasar dapat dilakukan di
puskesmas induk, puskesmas pembantu, posyandu, serta unit-unit yang terkait di
masyarakat.
Semua
bentuk pelayanan kesehatan perlu di dorong dan di gerakkan untuk menciptakan
pelayanan yang prima. Selain itu,cakupan pelayanan diperluas dengan pemerataan
pelayanan kesehatan untuk segala aspek atau lapisan masyarakat. Bentuk pelayanan
tersebut dilakukan dalam rangka jangkauan pemerataan pelayanan kesehatan. Upaya
pemerataan tersebut dapat dilakukan dengan penyebaran bidan desa,perawat
komunitas, fasilitas balai kesehatan , pos kesehatan desa, puskesmas keliling.
Berkaitan
dengan kematian bayi akibat persalinan, maka upaya yang dapat dilakukan adalah
memperbaiki pelayanan kebidanan serta menyebarkan buku KIA,alat monitor
kesehatan oleh tenaga kesehatan, dan alat komunikasi antara tenaga kesehatan
dengan pasien. Di jepang, buku KIA yang digunakan sejak tahun 1948 mampu
menurunkan secara signifikan angka kematian bayi-AKB dan angka kematian ibu-AKI
(Hapsari 2004)
2.
Meningkatkan status gizi masyarakat
Peningkatan
status gizi masyarakat merupakan bagian dari upaya untuk mendorong terciptanya
perbaikan status kesehatan. Dengan pemberian gizi yang baik diharapkan
pertumbuhan dan perkembangan anak akan baik pula ,disamping dapat memperbaiki
status kesehatan anak. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai
kegiatan, diantaranya upaya perbaikan gizi keluarga atau dikenal dengan nama
UPKG. Kegiatan UPKG tersebut didorong dan di arahkan pada peningkatan status
gizi,khususnya pada masyarakat yang rawan atau memiliki resiko tinggi terhadap
kematian atau kesakitan. Kelompok risiko tinggi terdiri atas anak balita, ibu
hamil, ibu menyusui, dan lansia yang golongan ekonominya rendah. Melalui upaya
tersebut, peningkatan kesehatan akan tercakup pada semua lapisan masyarakat
khususnya pada kelompok resiko tinggi.
3.
Meningkatkan peran serta masyarakat
Peningkatan
peran serta masyarakat dalam membantu perbaikan status kesehatan ini
penting,sebab upaya pemerintah dalam rangka menurunkan kematian bayi dan anak
tidapat dilakukan hanya oleh pemerintah, melainkan peran serta masyarakat
dengan keterlibatan atau partisipasi secara langsung. Upaya masyrakat tersebut
sangat menentukan keberhasilan program pemerintah sehingga mampu mengatasi
berbagai masalh kesehatan. Melalui peran serta masyarakat diharapkan mampu pula
bersifat efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan. Upaya atau program
pelayanan kesehatan yang membutuhkan peran serta masyarakat antara lain
pelaksanaan imunisasi, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan, perbaikan
gizi, dan lain-lain. Upaya tersebut akan memudahkan pelaksanaanprogram kesehatan
yang tepat pada sasaran yang ada.
4.
Meningkatkan manajemen kesehatan
Upaya
pelaksanaan program pelayanan kesehatan anak dapat berjalan dan berhasil dengan
baik bila didukung dengan perbaikan dalam pengelolaan pelayanan kesehatan.
Dalam hal ini adalah peningkatan manajemen pelayanan kesehatan melalui
pendayagunaan tenaga kesehatan profesionan yang mampu secar langsung mengatasi
masalah kesehatan anak. Tenaga kesehatan yang dimaksud antara lain tenaga
perawat, bidan, serta dokter yang berada dipuskesmas yang secara langsung
berperan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Angka
kematian anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung
mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka kematian anak akan tinggi bila terjadi
keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk,
tingginya prevalensi penyakit menular pada anak atau kecelakaan yang terjadi di
dalam atau di sekitar rumah. Dan juga Semua bentuk pelayanan kesehatan perlu di
dorong dan di gerakkan untuk menciptakan pelayanan yang prima. Selain
itu,cakupan pelayanan diperluas dengan pemerataan pelayanan kesehatan untuk
segala aspek atau lapisan masyarakat. Bentuk pelayanan tersebut dilakukan dalam
rangka jangkauan pemerataan pelayanan kesehatan.
3.2 Saran
Karena
keterbatasan di dalam penggalian data maupun kesederhanaan paparan dalam makalah ini,
sehingga masih banyak terdapat kekeliruan dalam setiap penulisan ejaan maupun
susunan kalimat. Oleh karena itu kritik dan saran serta masukan yang bersifat
membangun sangat diharapkan
dalam upaya penyempurnaan makalah ini selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
§
Maryunani,
anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : CV. Trans Info Media
§
E.Behrman,Richard,dkk.
2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta : EGC
§
Suriadi,
dkk.2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : CV.Sagung Seto
§
Ranuh,
Gde. 2012. Beberapa Catatan Kesehatan Anak. Jakarta : CV.Sagung Seto
§
Pn,
eveline, dkk. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Ciganjur : PT.
Wahyumedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar