Senin, 11 Januari 2016

Morbilitas dan Mortalitas pada Bayi, Batita, & Balita

BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
                        Angka kematian bayi menggambarkan keadaan social ekonomi dimana angka kematian tersebut dihitung. Kegunaan angka kematian bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neonatal(bayi baru lahir) dan kematian bayi lainnya. Dan berbagai faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak balita. Berbagai faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak balita adalah sebagai berikut.
1.      Faktor Kesehatan
2.      Faktor Kebudayaan
3.      Faktor Keluarga
1.2              Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan konsep dasar dan pengertian bayi,batita, dan balita?
2.      Apakah yang dimaksud dengan mobilitas dan mortalitas pada bayi, balita?
3.      Apa saja penyebab morbilitas dan mortalitas pada bayi dan balita di Indonesia?
4.      Apa saja upaya untuk menurunkan morbilitas dan mortalitas pada bayi dan balita?
1.3              Tujuan
1.      Untuk mengetahui konsep dasar dan pengertian bayi,batita, dan balita
2.      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan mobilitas dan mortalitas pada bayi, balita
3.      Untuk mengetahui penyebab morbilitas dan mortalitas pada bayi dan balita di Indonesia
4.      Untuk mengetahui upaya untuk menurunkan morbilitas dan mortalitas pada bayi dan balita



BAB II
PEMBAHASAN
2.1       KONSEP DASAR BAYI, BATITA , & BALITA
§  Pengertian Bayi         : Masa tahapan pertama kehidupan seorang manusia setelah terlahir dari rahim seorang ibu. Pada masa ini, perkembangan otak dan fisik bayi selalu menjadi perhatian utama, terutama pada bayi yang terlahir premature maupun bayi yang terlahir cukup bulan namun memiliki berat badan rendah.

§  Pengertian Batita      : Merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi dengan usia + 15 bulan-3 tahun.

§  Pengertian Balita       : Merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi dengan rentang usia dimulai dari dua sampai dengan lima tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia
prasekolah.

2.2       MORDIBITAS & MORTALITAS PADA BAYI
§   Angka Kesakitan Bayi dan Kematian Bayi
1.        Angka Kesakitan Bayi
     Angka kesakitan (Mordibitas) adalah perbandingan antara jumlah penduduk karena penyakit tertentu dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun, dan dinyatakan dalam per 100 penduduk. Kegunaan dari mengetahui angka kesakitan ini adalah sebagai indicator yang digunakan untuk menggambarkan pola penyakit tertentu yang terjadi di masyarakat. Angka kesakitan bayi adalah perbandingan antara jumlah penyakit bayi tertentu yang ditemukan di satu wilayah tertentu pada kurun waktu 1 tahun dengan jumlah kasus penyakit bayi tertentu yang ditemukan disuatu wilayah pada kurun waktu yang sama dikalikan seratus persen.
2.        Angka Kematian Bayi
     Angka kematian (Mortalitas) digunakan untuk menggambarkan pola penyakit yang terjadi di masyarakat. Kegunaan dari mengetahui angka kematian ini adalah sebagai indicator yang digunakan sebagai ukuran derajat kesehatan untuk melihat status kesehatan penduduk dan keberhasilan pelayanan kesehatan dan upaya pengobatan yang dilakukan.
     Sementara itu, yang dimaksud dengan kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Jadi, Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Secara garis besar, adapula yang membagi kematian bayi menjadi dua,berdasarkan penyebabny, yaitu :
§    Kematian neonatal atau disebut juga kematian bayi endogen adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan. Kematian bayi neonatal atau bayi baru lahir ini umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orangtuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
§    Kematian post natal atau disebut dengan kematian bayi endogen adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan.
            Angka kematian bayi menggambarkan keadaan social ekonomi dimana angka kematian tersebut dihitung. Kegunaan angka kematian bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neonatal(bayi baru lahir) dan kematian bayi lainnya. Karena kematian neonatal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan program pelayanan kesehatan  ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
            Menurut Survey Kematian Bayi (SKRT) tahun 2001, Angka Kematian Bayi Baru Lahir (umur 0-28 hari) adalah 20 per 1000 kelahiran hidup. Yang berarti bahwa jumlah kematian bayi baru lahir adalah: 89.770 bayi baru lahir pertahun atau 246 bayi baru lahir per hari atau 10 bayi baru lahir per jam. Sedangkan, Angka Kematian Bayi (0-12 bulan), menurut SKRT tahun 2001 adalah 35 per 1000 kelahiran hidup. Yang berarti jumlah kematian bayi adalah 157.000 bayi pertahun atau 430 bayi perhari atau 18 bayi per jam.Tahun 2009, depkes RI mentargetkan penurunan angka kematian bayi baru lahir(neonatal) dari 20 bayi baru lahir per 1000 kelahiran hidup. Sementara itu, target penurunan Angka Kematian Bayi adalah dari 35 bayi per 1000 kelahiran hidup menjadi 26 bayi per 1000 kelahiran hidup.



§  Angka Kesakitan dan Kematian Balita
1.    Angka Kesakitan Balita
       Angka kesakitan balita berkaitan dengan kesakitan oleh karena adanya penyakita akut ( seperti penyakit pernafasan, infeksi, atau trauma), penyakit kronik, atau kecacatan pada masa balita. Angka kesakitan balita adalah perbandingan antara jumlah kasus penyakit balita tertentu yang ditemukan di suatu wilayah pada kurun waktu yang salam dikalikan seratus persen.
Contoh:
Angka kesakitan penyakit (difteri/pertusis/tetanus/TNeonatorum/campak/polio/hepatitis B)abak balita adalah perbandingan antara jumlah anak balita penderita (difteri/pertusis/tetanus/TNeonatorum/campak/polio/hepatitis B) dengan jumlah anak balita pada periode waktu yang sama dilakukan seratus persen.
2.    Angka Kematian Balita
       Yang di maksud dengan anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang berusia 1 sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 tahun sampai dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari. Sedangkan angka kematian anak adalah jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun. Selama 1 tahun tertentu per 100 anak pada usia yang sama pada pertengahan tahun tersebut. Jadi, angka kematian anak tidak termasuk kematian bayi.
       Angka kematian anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka kematian anak akan tinggi bila terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada anak atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah.
       Sedangkan yang dimaksud dengan balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusi 0 sampai menjelang 5 tahun (4 tahun, 11 bulan, 29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun. Jadi, angka kematian balita(AKABA) adalah jumlah kematian anak yang berusia 0-4 tahun selama 1 tahun tertentu per 1000 anak pada umur yang sama pada pertengahan tahun tersebut (termasuk kematian bayi).
2.3         PENYEBAB MORDIBITAS DAN MORTALITAS PADA BAYI & BALITA DI INDONESIA
            Angka kematian bayi dan balita Indonesia adalah tertinggi di negara ASEAN. Penyebab angka kesakitan dan kematian anak terbanyak saat ini masih diakibatkan oleh pneumonia (ISPA) dan diare. Untuk itu petugas kesehatan, termasuk bidan hendaknya terus berupaya meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuannya untuk menanggulangi berbagai masalah, termasuk pneumonia dan diare. Berikut ini akan dikemukakan pembahasan tentang kedua penyakit tersebut (Pneumonia dan diare) untuk dapat membantu bidan memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyakit pneumonia dan diare. Sehingga diharapkan bidan dapat memberikan pelayanan dan perhatian yang optimal terhadap kesehatn bayi dan balita.
1.    Angka Kesakitan ( Mordibitas) ISPA dan Pneumonia
   ISPA merupakan penyakit yang seringkali dilaporkan sebagai 10 penyakit utama   di negara berkembang. Gejala yang sering dijumpai adalah batuk, pilke dan kesukaran bernafas. Episode atau serangan batuk pada anak, khususnya balita adalah 6-8 kali pertahun.
2.    Angka Kematian (Mortalitas) ISPA dan Pneumonia
               Kematian akibat ISPA pada anak, khususnya balita, terutama disebabkan oleh pneumonia. Di Indonesia, angka kejadian pneumonia pada balita adalah sekitar 10-20% pertahun. Angka kematian pneumonia pada balita Indonesia adalah 6 per 1000 balita. Ini berarti dari setiap 1000 balita setiap tahun ada 6 orang di antaranya yang meninggal akibat pneumonia sebelum ulang tahunnya yang ke 5
Jika dihitung, jumlah balita yang meninggal akibat pneumonia di Indonesia dapat mencapai 150.000 orang pertahun, 12.500 perbulan, 416 perhari, 17 orang perjam atau 1 orang balita tiap menit. Usia yang rawan adalah usia bayi (dibawah 1 tahun), karena sekitar 60-80% kematian pneumonia terjadi pada bayi. Menurut survey Kesehatan Rumah Tangga 1995,proporsi kematian ISPA (terutama pneumonia) pada abyi adalah 29,5%. Artinya dari setiap 100 orang bayi yang meninggal, sekitar 30 orang bayi yang meninggal karena ISPA terutama pneumonia. Survey ini juga mengungkapkan bahwa penyebab kematian terbesar pada bayi adalah ISPA
3.      Diare
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, penyakit diare adalah salah satu penyebab kematian utamasetelah infeksi saluran pernafasan.
Insiden penyakit diare yang berkisar antara 200-374 dalam 1000 penduduk, dimana 60-70% di antaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun.
§  Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan anak
Berbagai faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak balita adalah sebagai berikut.
1)      Faktor Kesehatan
Faktor kesehatan ini merupakan faktor utama yang dapat menentukan status kesehatan anak secara umum. Faktor ini ditentukan oleh status kesehatan anak itu sendiri, status gizi, dan kondisi sanitasi.
2)      Faktor Kebudayaan
Pengaruh budaya juga sangat menentukan status kesehatan anak, dimana terdapat keterkaitan secara langsung antara budaya dengan pengetahuan. Budaya di masyarakatdapat juga menimbulkan penurunan kesehatan anak, misalnya terdapat beberapa budaya dimasyarakat yang di anggap baik oleh masyarakat padahal budaya tersebut justru menurunkan kesehatan anak. Sebagai contoh, anak yang badannya panas akan dibawa ke dukun dengan keyakinan terjadi kesurupan/kemasukan barang gaib, anak pascaoperasi dilarang makan daging ayam , karena daging ayam dianggap dapat menambah nyeri yang ada pada luka operasi (nyeri atau ada anggapan lain bahwa luka tersebut menjadi lebih sulit sembuh), kebiasaan memberikan pisang pada bayi baru lahir dengan anggapan anak cepat besar dan berkembang, atau anak tidka boleh makan daging dan telur karena dapat menimbulkan penyakit cacingan. Berbagai contoh budaya yang ada di masyarakat tersebut sangat besar mempengaruhi derajat kesehatan anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang tentunya membutuhkan perbaikan gizi atau nutrisi yang cukup.
3)       Faktor Keluarga
Faktor keluarga dapat menentukan keberhasilan perbaikan status kesehatan anak. Pengaruh keluarga pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sangat besar melalui pola hubungan anak dan keluarga serta nilai-nilai yang ditanamkan. Apakah anak dijadikan sebagai pekerja atau anak diperlakukan sebagaimana mestinya dan dipenuhi kebutuhannya baik asah, asih, atau asuhnya. Peningkatan status kesehatan anak juga terkait langsung dengan peran dan fungsi keluarga terhadap anaknya, seperti membesarkan anak, memberikan dan menyediakan makanan, melindungi kesehatan, memberikan perlindungan secara psikologis, menanamkan nilai budaya yang baik, mempersiapkan pendidikan anak, dan lain-lain.

2.4       UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN BAYI & ANAK BALITA
            Pemerintah telah membuat berbagai kebijakan untuk mengatasi persoalan kesehatan anak.khususnya untuk menurunkan angka kematian anak,di antaranya sebagai berikut :
1.      Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat telah dilakukan berbagai upaya, salah satunya adalah dengan meletakkan dasar pelayanan kesehatan pada sector pelayanan dasar. Pelayanan dasar dapat dilakukan di puskesmas induk, puskesmas pembantu, posyandu, serta unit-unit yang terkait di masyarakat.

Semua bentuk pelayanan kesehatan perlu di dorong dan di gerakkan untuk menciptakan pelayanan yang prima. Selain itu,cakupan pelayanan diperluas dengan pemerataan pelayanan kesehatan untuk segala aspek atau lapisan masyarakat. Bentuk pelayanan tersebut dilakukan dalam rangka jangkauan pemerataan pelayanan kesehatan. Upaya pemerataan tersebut dapat dilakukan dengan penyebaran bidan desa,perawat komunitas, fasilitas balai kesehatan , pos kesehatan desa, puskesmas keliling.

Berkaitan dengan kematian bayi akibat persalinan, maka upaya yang dapat dilakukan adalah memperbaiki pelayanan kebidanan serta menyebarkan buku KIA,alat monitor kesehatan oleh tenaga kesehatan, dan alat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan pasien. Di jepang, buku KIA yang digunakan sejak tahun 1948 mampu menurunkan secara signifikan angka kematian bayi-AKB dan angka kematian ibu-AKI (Hapsari 2004)

2.      Meningkatkan status gizi masyarakat
Peningkatan status gizi masyarakat merupakan bagian dari upaya untuk mendorong terciptanya perbaikan status kesehatan. Dengan pemberian gizi yang baik diharapkan pertumbuhan dan perkembangan anak akan baik pula ,disamping dapat memperbaiki status kesehatan anak. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, diantaranya upaya perbaikan gizi keluarga atau dikenal dengan nama UPKG. Kegiatan UPKG tersebut didorong dan di arahkan pada peningkatan status gizi,khususnya pada masyarakat yang rawan atau memiliki resiko tinggi terhadap kematian atau kesakitan. Kelompok risiko tinggi terdiri atas anak balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia yang golongan ekonominya rendah. Melalui upaya tersebut, peningkatan kesehatan akan tercakup pada semua lapisan masyarakat khususnya pada kelompok resiko tinggi.

3.      Meningkatkan peran serta masyarakat
Peningkatan peran serta masyarakat dalam membantu perbaikan status kesehatan ini penting,sebab upaya pemerintah dalam rangka menurunkan kematian bayi dan anak tidapat dilakukan hanya oleh pemerintah, melainkan peran serta masyarakat dengan keterlibatan atau partisipasi secara langsung. Upaya masyrakat tersebut sangat menentukan keberhasilan program pemerintah sehingga mampu mengatasi berbagai masalh kesehatan. Melalui peran serta masyarakat diharapkan mampu pula bersifat efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan. Upaya atau program pelayanan kesehatan yang membutuhkan peran serta masyarakat antara lain pelaksanaan imunisasi, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan, perbaikan gizi, dan lain-lain. Upaya tersebut akan memudahkan pelaksanaanprogram kesehatan yang tepat pada sasaran yang ada.

4.      Meningkatkan manajemen kesehatan
Upaya pelaksanaan program pelayanan kesehatan anak dapat berjalan dan berhasil dengan baik bila didukung dengan perbaikan dalam pengelolaan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini adalah peningkatan manajemen pelayanan kesehatan melalui pendayagunaan tenaga kesehatan profesionan yang mampu secar langsung mengatasi masalah kesehatan anak. Tenaga kesehatan yang dimaksud antara lain tenaga perawat, bidan, serta dokter yang berada dipuskesmas yang secara langsung berperan dalam pemberian pelayanan kesehatan.









BAB III
PENUTUP
3.1              Kesimpulan
            Angka kematian anak mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang langsung mempengaruhi tingkat kesehatan anak. Angka kematian anak akan tinggi bila terjadi keadaan salah gizi atau gizi buruk, kebersihan diri dan kebersihan yang buruk, tingginya prevalensi penyakit menular pada anak atau kecelakaan yang terjadi di dalam atau di sekitar rumah. Dan juga Semua bentuk pelayanan kesehatan perlu di dorong dan di gerakkan untuk menciptakan pelayanan yang prima. Selain itu,cakupan pelayanan diperluas dengan pemerataan pelayanan kesehatan untuk segala aspek atau lapisan masyarakat. Bentuk pelayanan tersebut dilakukan dalam rangka jangkauan pemerataan pelayanan kesehatan.
3.2       Saran
                        Karena keterbatasan di dalam  penggalian data maupun kesederhanaan paparan dalam makalah ini, sehingga masih banyak terdapat kekeliruan dalam setiap penulisan ejaan maupun susunan kalimat. Oleh karena itu kritik dan saran serta masukan yang bersifat membangun sangat diharapkan dalam upaya penyempurnaan makalah ini selanjutnya.
















DAFTAR PUSTAKA
§  Maryunani, anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : CV. Trans Info Media
§  E.Behrman,Richard,dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta : EGC
§  Suriadi, dkk.2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : CV.Sagung Seto
§  Ranuh, Gde. 2012. Beberapa Catatan Kesehatan Anak. Jakarta : CV.Sagung Seto
§  Pn, eveline, dkk. 2010. Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita. Ciganjur : PT. Wahyumedia








Tidak ada komentar:

Posting Komentar